Tuesday, March 29, 2016

Filosofi Tanah Gambut

     
          Tanah gambut adalah tanah yang terdiri dari bahan organik dimana proses pelapukannya masih terus berjalan.  Tanah gambut termasuk tanah yang marginal. Butuh waktu lama dan proses yang sangat lama hingga tanah gambut bisa dimanfaatkan secara maksimal untuk bisa ditanami tanaman budidaya sehingga tanah gambut bisa berdaya guna.  Namun demikian, semarginal apapun tanah gambut tetap bisa memberi manfaat karena Tuhan menciptakan segala sesuatu di alam ini dengan tidak sia-sia.  Tanah gambut yang marginal saja masih bisa memberi manfaat apalagi kita sebagai manusia yang diciptakan paling sempurna makhluk di muka bumi. Maka belajarlah dari kemarjinalan tanah gambut.  Bagaimana tanah gambut dengan sabarnya sedikit demi sedikit meskipun melalui proses yang sangat lama tumpukan sisa-sisa tumbuhan yang melapuk itu akhirnya bisa digunakan menjadi lahan pertanian.  Kita sebagai manusia seringkali terlalu banyak mengeluh.  Semua yang ingin dicita-citakan maunya serba instan. Padahal untuk memperoleh kesuksesan itu harus bertahap melewati tangga demi tangga cobaan hidup.  Di dalam hidup kita harus sabar dan kuat melalui semua tahapan-tahapan itu sesabar tanah gambut dalam melalui proses pelapukan alaminya.  
        Tanah gambut, jangan dipaksa ia untuk siap ditanami seketika karena ia sesungguhnya belum siap.  Biarkan ia berproses alami sambil dikelola dengan benar.  Karena jika ia dipaksa ditanami bukan hanya tanaman saja yang merana tapi juga tanah gambut akan bertambah kemarjinalannya. Seperti juga manusia ketika bekal ilmu yang belum cukup dan belum siap maka hanya akan membawa kerusakan bagi lingkungannya. Bersabarlah seperti tanah gambut.  Ikutilah prosesnya dan nikmatilah karena itu merupakan bagian dari perjalanan hidup.
       Tanah gambut secara alamiah selalu jenuh air/tergenang.  Air yang menjenuhi tanah gambut ini akan menjaga sifat buruk tanah gambut.  Tanah gambut tidak boleh dikeringkan secara mendadak karena akan menghilangkan sifat-sifat baiknya.  Tanah gambut yang terjaga kejenuhan airnya itu seperti moral yang baik yang menjaga manusia agar tetap dalam kebaikan.  Ketika tanah gambut kehilangan air yang menjenuhinya maka tanah gambut tidak lagi bersahabat dengan manusia, karena sesungguhnya tanah gambut sudah terlanjur marah. Kemarahan yang menyebabkan tanah gambut yang tidak mungkin kebaikannya balik lagi seperti semula.  Seperti itulah ketika manusia kehilangan moral yang menjenuhi hatinya.  Sefat-sifat buruk manusia akan muncul dan Manusia akan menjadi makhluk perusak alam. 
     Oleh karena itu wajib bagi kita untuk selalu memberi kebaikan kepada semesta alam ini dengan menjenuhi hati kita dengan moral yang baik sebagaimana air yang selalu menjenuhi tanah gambut yang menjaga sifat-sifat tanah gambut yang baik akan tetap terjaga.


By. Abdul Syahid












Thursday, March 24, 2016

"Tanah Gambut Itu Jujur, Lugu, tetapi tidak Mudah Memaafkan"


Tanah gambut itu jujur....

Ia tidak pernah berbohong.... 

Ketika anda mengelolanya tanpa terlebih dulu bicara empat mata dengannya, apalagi anda sampai mengacuhkan tentang semua sifat-sifatnya.... 

Itu sama saja anda telah membohonginya.... 

Tanah gambut memang lugu. tapi jangan sampai anda manfaatkan keluguannya hanya untuk mengeruk keuntungan pribadi anda.... 

Karna itu hanya akan membuat tanah gambut marah...

Dan ketika tanah gambut marah maka ia tidak mudah untuk memaafkan....

Tanah gambut itu jujur...

Tanah gambut itu lugu...

Tanah gambut itu tidak mudah memaafkan...

Cara Menentukan Perlakuan Terbaik pada Perlakuan Kuantitatif dan Perlakuan Kualitatif

Seringkali kita dihadapkan pada keadaan dimana kita kadang kesulitan dalam menentukan mana perlakuan yang terbaik dari semua perlakuan yang kita coba atau yang kita teliti dalam suatu penelitian. Dalam hal ini tentu dalam menentukan mana perlakuan yang terbaik antara perakuan yang bersifat kuantitatif akan berbeda dengan perlakuan yang bersifat kualitatif. Sebelum kita bahas lebih lanjut ada baiknya saya jelaskan apa itu perlakuan kuantitatif dan apa itu perlakuan kualitatif. Perlakuan kuantitatif adalah perlakuan dimana ada skala ukur atau skala hitung dalam menentukan taraf-taraf dalam perlakuannya. Perlakuan kuantitatif itu contohnya: “dosis pupuk”, “dosis pestisida”, “takaran pupuk kandang”, “takaran kompos”, dan lain sebagainya. Misalnya perlakuan Takaran pupuk Kandang kotoran sapi dimana tarafnya adalah 0 t.ha-1, 5 t.ha-1, 10 t.ha-1, 15 t.ha-1, dan 20 t.ha-1. Antar takaran pupuk kandang kotoran sapi ada jarak tertentu dengan nilai tertentu yaitu 0, 5, 10, dst, dan oleh karena hal inilah maka perlakuan jenis seperti ini dinamakan perlakuan kuantitatif. Sedangkan perlakuan kualitatif adalah perlakuan dimana tidak ada skala ukur atau skala hitung pada taraf-taraf perlakuannya. Perlakuan kualitatif itu contohnya: jenis pupuk (pupuk kandang kotoran sapi, pupuk kandang kotoran ayam, pupuk kandang kotoran burung, dll), jenis herbisida (herbisida buatan, herbisida nabati), jenis kompos (kompos kotoran sapi, kompos kotoran kambing, kompos kotoran ayam, kompos eceng gondok, dll). Pada perlakuan kualitatif ini tidak ada jarak antara perlakuan satu dengan perlakuan yang lainnya karena yang membedakan perlakuan kualitatif adalah pada kualitas perlakuannya buakn pada jumlah perlakuannya.

Menentukan perlakuan yang terbaik pada perlakuan kuantitatif harus mempertimbangkan beberapa hal terutama dari aspek ekonomis mengapa perlakuan tersebut dianggap sebagai perlakuan yang terbaik. Sebagai ilustrasi saya berikan contoh hasil pengujian beda nilai rata-rata perlakuan pengaruh takaran pupuk kandang kotoran sapi terhadap rata-rata bobot tongkol jagung per hektar berikut ini:




Dari hasil pengujiaan BNJ di atas terlihat bahwa tidak ada perbedaan pengaruh perlakuan antara perlakuan takaran pupuk kandang kotoran sapi 10 t.ha-1, 15 t.ha-1, dan 20 t.ha-1 karena ketiga nilai rata-rata dikuti dengan huruf yang sama. Perlakuan 5 t.ha-1 tidak berbeda dengan perlakuan tanpa pupuk kandang. Hal ini menunjukkan implikasi bahwa ketika petani hanya mempunyai pupuk kandang kotoran sapi 5 ton dan ia ingin memberikan pupuk kandangnya tersebut ke tanaman jagung maka disarankan lebih baik jangan diberikan karena hasil bobot tongkol jagungnya nanti akan sama hasilnya ketika tanaman jagung si petani tersebut tidak diberikan pupuk kandang kotoran sapi. Kemudian ketika kita ingin merekomendasikan berapa takaran yang terbaik dalam hal ini, maka apabila kita menentukan bahwa yang terbaik adalah perlakuan takaran 20 t.ha-1 karena memberikan hasil bobot tongkol yang tertinggi adalah suatu kekeliruan yang besar. Mengapa demikian, perlakuan 20 t.ha-1 boleh jadi memberikan hasil bobot tongkol yang tertinggi tapi hasil bobot tongkolnya tidak berbeda nyata dengan perlakuan takaran 10 t.ha-1 juga dengan perlakuan takaran 15 t.ha-1. Maka dalam hal ini perlakuan terbaik adalah perlakuan takaran 10 t.ha-1. Implikasinya adalah petani harus direkomendasikan menggunakan takaran 10 t.ha-1 karena hasil bobot tongkolnya tidak berbeda nyata dengan takaran 15 t.ha-1 dan 20 t.ha-1.

Berbeda dengan perlakuan kuantitatif, menentukan perlakuan yang terbaik pada perlakuan kualitatif tidak saja mempertimbangkan beberapa hal seperti aspek ekonomis tetapi juga ketersedian bahan mengapa perlakuan tersebut dianggap sebagai perlakuan yang terbaik. Sebagai ilustrasi saya berikan contoh hasil pengujian beda nilai rata-rata perlakuan pengaruh jenis pupuk kandang terhadap rata-rata bobot tongkol jagung per hektar berikut ini (dengan angka yang sama pada ilustrasi perlakuan kuantitatif) :



Dari hasil pengujiaan BNJ di atas terlihat bahwa tidak ada perbedaan pengaruh perlakuan antara perlakuan jenis pupuk kandang kotoran kambing, kotoran itik, kotoran ayam karena ketiga nilai rata-rata dikuti dengan huruf yang sama. Perlakuan kotoran sapi tidak berbeda dengan kotoran kuda, tetapi karena bobot tongkolnya rendah maka abaikan saja kedua perlakuan tersebut. Namun demikian tidak menutup kamungkinan jika jenis pupuk kandang yang tersedia di petani hanya kotoran sapi atau kotoran kuda, mereka bisa memilih salah satunya untuk digunakan sebagai pupuk kandang. Kemudian ketika kita ingin merekomendasikan jenis pupuk kandang apa yang terbaik dalam hal ini, maka apabila kita menentukan bahwa yang terbaik adalah hanya perlakuan pupuk kandang kotoran ayam karena memberikan hasil bobot tongkol yang tertinggi adalah suatu kekeliruan. Mengapa demikian, karena sesungguhnya perlakuan pupuk kandang kotoran kambing dan pupuk kandang kotoran itik juga sama baiknya dengan perlakuan pupuk kandang kotoran ayam. Implikasinya adalah ketika petani dihadapkan atas beberapa pilihan pupuk kandang yang tersedia maka ia bisa memilih salah satu pupuk kandang apakah pupuk kandang kotoran ayam atau pupuk kandang kotoran kambing atau pupuk kandang kotoran itik tergantung ketersediaan pupuk yang dimilikinya. Artinya apapun dari ketiga jenis pupuk kandang tersebut yang akan dipilih petani akan memberikan hasil yang sama baiknya terhadap bobot tongkol jagung.

Selesai, semoga bermanfaat...

Wednesday, March 23, 2016

Pendugaan Parameter

Cara menduga Parameter

Pendugaan suatu parameter dilakukan dengan menggunakan penduga tak bias. Misalnya menduga rata-rata populasi, μ dengan statistik . Penduga tak bias bagi parameter yang efisien adalah penduga tak bias yang mempunyai ragam paling kecil. Pendugaan suatu parameter menggunakan selang tertentu yang di dalamnya diharapkan terletak nilai parameter yang sebenarnya. Pendugaan suatu parameter menggunakan derajad kepercayaan atau selang kepercayaan, yaitu (1 - α)100%. Misalnya α = 0,05, maka selang kepercayaannya 95%, dan bila α = 0,01, maka selang kepercayaannya 99%. Semakin lebar selang kepercayaannya, maka semakin luas nilai yang mencakup parameter yang diduga.

Selengkapnya silahkan DOWNLOAD DI SINI

Tugas Bab Pendugaan Parameter

1. Isi 10 kaleng besar sabun berturut-turut 10,2 9,7 10,1 10,3 10,1 9,8 9,9 10,4 10,3 dan 9,8. Susun selang kepercayaan 99% bagi nilai tengah semua kaleng sabun tersebut, bila diasumsikan sebarannya normal.

2. Dua jenis tambang ingin dibandingkan kekuatannya. Untuk itu 50 potong tambang dari setiap jenis diuji dalam kondisi yang sama. Jenis A mempunyai kekuatan rata-rata 78,3 kg dengan simpangan baku 5,6 kg. Sedangkan jenis B mempunyai kekuatan dengan rata-rata 87,2 kg dengan simpangan baku 6,3 kg. Susun selang kepercayaan 95% bagi selisih kedua nilai tengah populasinya.

3. Dari suatu contoh acak 1000 rumah di sebuah kota, ditemukan bahwa 628 rumah menggunakan pemanas gas alam. Buat selang kepercayaan 98% bagi proporsi rumah-rumah di kota ini yang menggunakan pemanas gas alam.

4. Seorang ahli genetika tertarik pada proporsi laki-laki dan perempuan dalam populasi yang mengidap kelainan darah tertentu. Dalam suatu contoh 100 orang laki-laki, ternyata ada 24 yang mengidap kelainan tersebut, sedangkan di antara 100 orang perempuan yang diperiksa ternyata ada 13 yang mengidap kelainan itu. Buat selang kepercayaan 99% bagi selisih antara proporsi sebenarnya laki-laki dan perempuan yang mengidap kelainan darah ini.

“Telaga Air dan Teratainya”


Air telaga itu begitu terang...
Hingga aku bisa melihat ke dasarnya...
Aku bisa melihat segala isinya dari tepi dimana aku berdiri....
Beberapa dedaunan teratai mencoba menghalangi pandanganku...
Tapi kubiarkan saja untuk tidak mencabut teratai itu...
Mungkin teratai itu sengaja menutupi sebagian permukaan telaga itu...
Agar tidak semua rahasia yang ada di bawah air telaga terlihatku dan tetap menjadi rahasia...
Akupun mulai membuka teratai itu...
Untuk aku mengetahui segala rahasia yang terdiam dan tersembunyi di bawah airnya...
Mungkin saja ada cinta yang terdiam dan tersembunyi disana...
Mungkin saja ada seseorang yang menungguku disana....
Mungkin saja ada kebencian yang terdiam dan tersembunyi di bawah sana...
Dan ternyata ada cinta disana...
Dan akupun mengambil cinta yang terdiam dan tersembunyi itu dan menghancurkan kebencian yang ada tanpa harus merusak teratainya....
Meski aku tidak dapat menghindari riak permukaan air yang akan kusentuh cepat atau lambat akan sampai ke tepian telaga....
Dan akan segera membunyikan tetabuhan suara alam ke segala penjuru tepiannya...
Hmmm....
Entah mengapa aku malu sekali...
Rasanya aku ingin mengikuti bumi ini terbenam di ufuk matahari...
Bersama cinta yang baru saja kudapat...
Tidak ada yang salah dengan air telaga itu juga dengan teratai di atasnya apalagi dengan cinta itu...
Kalau saja aku mengambil cinta itu dengan merusak teratainya...
Itu akan menjadi kesalahan terbesarku...
Dan aku bergegas meninggalkan telaga itu tanpa suara sedikitpun...
Beberapa rahasia masih tertinggal dan diam disana...
Biarlah semua rahasia dan cinta cinta yang masih ada disana tetap disana...
Karna suatu saat seseorang akan datang lagi kesana untuk mengambil yang seharusnya ia ambil...
Aku sudah terlarang mengambil rahasia rahasia itu, karna apa yang kudapatkan sudah kudapatkan...
Dan aku tidak akan pernah menduakannya...
Dan kini cinta yang kuambil itu sudah kuletakkan di suatu tempat dimana ia bisa tumbuh...
Dan aku tenteram bersamanya....

RESPONS PERTUMBUHAN DAN HASIL JAGUNG (Zea mays L) terhadap Unsur Hara Kalium


Jagung (Zea mays L) merupakan tanaman dengan jalur fotosintetik C4 sehingga laju pertumbuhan potensialnya tinggi. Hasil biji maksimum bisa mencapai 12 t ha-1. Namun demikian, pertumbuhan dan hasil jagung sangat dipengaruhi oleh keadaan iklim dan suplai unsur hara (Fageria, Baligar, dan Charles Allan Jones, 1990).
Salah satu unsur hara yang penting untuk mendukung pertumbuhan dan hasil jagung adalah kalium (Wihardjaka, Harsanti, dan Suprapto, 2000).
Kalium merupakan salah satu unsur hara essensial selain nitrogen dan fosfor yang diambil tanaman dalam jumlah yang banyak (Lilik Agustina, 1990). Kalium berpengaruh terhadap respirasi dan transpirasi, mendorong sintesis dan translokasi karbohidrat (Fitzpatrick, 1986). Peran utama dari kalium adalah sebagai pengaktif beberapa enzim seperti aldolase dan piruvat kinase (Lilik Agustina, 1990).

Ketersediaan Kalium

Ketersediaan kalium sangat dipengaruhi oleh dan bahan organik dalam tanah (Soemarno, 1993). Faktor lain yang juga mempengaruhi adalah iklim dalam hal ini curah hujan (Foth dan Ellis, 1988). Pemberian pupuk kandang adalah salah satu cara untuk dapat meningkatkan bahan organik tanah. Di samping itu pupuk kandang dapat menjadi sumber hara dan meningkatkan daya menahan air, sehingga dapat lebih meningkatkan ketersediaan kalium dalam tanah (Saifuddin, 1985).
Batas kritis kekurangan hara kalium di dalam tanah untuk tanaman jagung adalah 0,30 me 100 g-1 tanah atau 234 kg ha-1 (Fathan, Ratna, Rahardjo, dan Makarim, 1988). Kekurangan kalium pada tanaman jagung berakibat mengeringnya ujung daun bagian bawah yang kemudian menjalar ke bagian pinggir daun dan mati. Jagung yang kekurangan kalium masih mampu berbuah tetapi tongkol yang dihasilkan kecil dan ujungnya meruncing (Rony Palungkun dan Asiani Budiarti, 1991). Kekurangan kalium mengakibatkan turunnya kualitas biji yang ditandai dengan mengecilnya ukuran biji, sehingga akan menurunkan berat biji kering per ha (Forster dan Bringer dalam Maemunah dan Iskandar, 2002).
Diduga Curah Hujan akan berpengaruh terhadap ketersediaan kalium dalam tanah. Pupuk kalium yang diberikan ke dalam tanah akan bergerak kepermukaan liat menjadi bentuk yang terikat sehingga untuk sementara kalium menjadi bentuk lambat tersedia bagi tanaman sebelum akhirnya dibebaskan menjadi bentuk dapat dipertukarkan dan selanjutnya kedalam bentuk larutan tanah. Manakala kalium dibebaskan menjadi bentuk dapat dipertukarkan dan dalam bentuk larutan tanah, maka resiko terhadap pencucian menjadi tinggi. Akibatnya kalium akan mudah hilang tercuci. Kehilangan ini akan dipercepat apabila intensitas curah hujan tinggi (Foth dan Ellis, 1988). Kondisi ini diduga mengakibatkan tidak responnya pertumbuhan dan hasil tanaman jagung terhadap kalium. Kekurangan kalium menyebabkan seluruh proses metabolisme terganggu sehingga produksi menurun. Kalium mampu meningkatkan kerapatan butir, ukuran tongkol, dan meningkatkan keseragaman masaknya (Odjak dalam Wihardjaka, et al., 2000).
Kelebihan kalium dapat mengakibatkan penurunan hasil tanaman jagung. Tanaman akan menyerap kalium lebih banyak dari pada yang diperlukan untuk hasil maksimum (Foth dan Ellis, 1988).

Pengambilan Kalium Oleh Tanaman Jagung

Respon pertumbuhan jagung terhadap pemupukan kalium tampak pada saat tanaman berumur antara ± 30 sampai 60 hari setelah tanam dan pada saat pembentukan biji pada umur ± 70 hari setelah tanam sampai menjelang panen (Robert, 1975). Kalium diambil tanaman dalam bentuk ion K+ (Soegiman, 1982; Fageria, et al., 1990). Kalium diambil tanaman jagung lebih banyak dengan cara difusi. Total pengambilan secara difusi mencapai 78%, melalui intersepsi akar 2% dan melalui aliran massa 20% (Foth dan Ellis, 1988). Kalium yang diambil oleh tanaman jagung maksimum 8 -10 kg ha-1 per hari (Foth dan Ellis, 1988). Diperkirakan sebanyak 3 kg kalium yang diambil dari dalam tanah untuk setiap 1 ton biji jagung (Fageria, et al., 1990). Dari hasil penelitian Karlen (1988) diketahui bahwa total akumulasi kalium pada saat panen diperkirakan 1,2% dari total berat kering (Fageria, et al., 1990).

Fungsi Kalium Terhadap Tanaman Jagung...

Selengkapnya silahkan DOWNLOAD DI SINI