Selamat Datang di http://abdulsyahid-forum.blogspot.com

Jumat, 22 Mei 2009

TUMBUHAN BIJI (SPERMATOPHYTA)

TUMBUHAN BIJI (SPERMATOPHYTA)
Oleh : Abdul Syahid, SP., MP

Tumbuhan biji merupakan golongan tumbuhan dengan tingkat perkembangan filogenetik tertinggi, yang sebagai ciri khasnya ialah adanya suatu organ yang berupa biji (dalam bahasa Yunani: sperma)
Ciri tumbuhan biji secara umum memiliki akar, batang, dan daun sejati. Tumbuhan biji juga memiliki alat perkembangbiakan yang tampak jelas berupa bunga. Hasil perkembangbiakan secara seksual adalah zigot yang kemudian akan berkembang menjadi embrio. Zigot merupakan hasil peleburan antara sel kelamin jantan dan sel kelamin betina. Embrio tersimpan dalam biji yang nantinya menjadi individu baru. Biji dibungkus oleh kulit selaput biji.
Klasifikasi tumbuhan biji dapat dirunut dari pengelompokkan tumbuhan berdasarkan ada dan tidak adanya pembuluh, dimana tumbuhan dibagi ke dalam dua kelompok, yaitu tumbuhan tidak berpembuluh (Thallophyta) dan tumbuhan berpembuluh (Tracheophyta). Tumbuhan tidak berpembuluh, meliputi tumbuhan lumut, alga atau ganggang, jamur atau fungi, dan bakteri. Sedangkan tumbuhan berpembuluh terbagi ke dalam dua kelompok, yaitu tumbuhan paku (Pteridophyta) dan tumbuhan biji (Spermatophyta). Tumbuhan biji (Spermatophyta) terdiri dari gymnospermae (tumbuhan biji terbuka) dan angiospermae (tumbuhan biji tertutup). Angiospermae terdiri dari dua kelas yaitu dikotil dan monokotil. Divisi tumbuhan biji yang terdiri dari dua anak divisi yaitu: Tumbuhan biji terbuka (Gymnospermae) dan Tumbuhan biji tertutup (Angiospermae).
Tumbuhan biji yang sekarang ada di muka bumi kita ini meliputi lebih kurang 170.000 jenis tumbuhan, atau lebih dari separoh jumlah flora dunia yang ditaksir seluruhnya meliputi lebih kurang 300.000 jenis tumbuhan.


Divisi tumbuhan biji yang terdiri dari dua anak divisi yaitu: Tumbuhan biji terbuka (Gymnospermae) dan Tumbuhan biji tertutup (Angiospermae) dapat dibedakan satu dengan yang lain berdasarkan ciri-ciri sebagai berikut:


Lanjutan


Gymnospermae (Tumbuhan Biji Terbuka)
Gymnospermae disebut sebagai tumbuhan yang memiliki biji terbuka karena bijinya tidak dilindungi oleh endosperm (bakal buah). Struktur tubuh gymnospermae seperti akar, batang, dan daun telah sempurna. Tumbuhan ini berakar tunggang. Batang tumbuh tegak bercabang-cabang. Batangnya bertipe monopodial, artinya memiliki cabang yang mudah dibedakan dari batang utamanya. Batang dan akar gymnospermae dapat tumbuh membesar karena memiliki kambium. Tumbuhan yang termasuk golongan gymnospermae ini melulu terdiri atas tumbuh-tumbuhan yang berkayu dengan bermacam-macam habitus (perawakan). Bagian kayunya berasal dari berkas-berkas pembuluh pengangkutan kolateral terbuka yang pada penampang melintang batang tersusun dalam suatu lingkaran, dan karena adanya kambium memperlihatkan pertumbuhan menebal sekunder. Dalam xilem tidak terdapat pembuluh-pembuluh kayu, melainkan hanya trakeida saja dan di dalam bagian floem berlainan dengan tumbuhan biji tertutup (angiospermae) tidak terdapat sel-sel pengiring.

Daun mempunyai bentuk yang bermacam-macam, kaku dan selalu hijau dengan di dalamnya berkas-berkas pengangkutan yang tidak bercabang atau bercabang menggarpu.


Gambar strobilus (runjung) jantan (a), runjung betina (b), dan runjung yang telah masak (c) pada pinus.

Pada umumnya tumbuhan biji terbuka belum memiliki bunga. Organ yang berfungsi sebagai bunga disebut strobilus atau runjung. Runjung jantan merupakan penghasil serbuk sari, sedangkan runjung betina menghasilkan sel kelamin betina. Beberapa jenis tumbuhan biji terbuka, runjung jantan dan runjung betina terdapat pada pohon yang berlainan, sehingga dikenal dengan pohon jantan dan pohon betina, contohnya pakis haji (Cycas rumphii). Pada beberapa jenis lain, runjung jantan dan runjung betina terdapat dalam satu pohon yang sama tetapi terletak pada ranting yang berlainan, contohnya pinus (Pinus merkussi).
Penyerbukan pada gymnospermae terjadi dengan bantuan angin (anemogami). Bakal biji terlindung oleh kulit biji saja dan tidak terlindung oleh daun buah yang menyatu menjadi putik, sehingga disebut tumbuhan biji terbuka.
Tumbuhan gymnospermae dikelompokkan ke dalam tujuh kelas yaitu Pteridospermae, Cycadinae, Bennettinae, Cordaitinae, Ginkyoinae, Gnetinae, dan Coniferinae. Contoh tumbuhan gymnospermae yang lain yaitu melinjo (Gnetum gnemon), damar (Agathis alba).

Angiospermae (Tumbuhan Biji Tertutup)
Tumbuhan biji tertutup merupakan tumbuhan yang bakal bijinya selalu diselubungi oleh suatu badan yang berasal dari daun-daun buah yang dinamakan bakal buah, yang kemudian kadang-kadang berserta bagian lain dari bunga akan tumbuh menjadi buah dan bakal biji yang telah menjadi biji terdapat di dalamnya. Karena tempat bakal biji yang tersembunyi itu serbuk sari tidak dapat secara langsung sampai pada bakal biji, melainkan mula-mula jatuh di luar bakal buah, pada suatu alat (organ) yang disebut kepala putik yang biasanya dengan bakal buah bersambungan dengan tangkai kepala putik. Bakal buah, tangkai kepala putik, dan kepala putik merupakan suatu alat yang dinamakan putik. Serbuk sari yang jatuh ke kepala putik lalu tumbuh merupakan buluh serbuk yang terus menuju ke bakal biji dan berguna sebagai perantara untuk menyampaikan sel kelamin jantan kepada sel kelamin betina. Sehabis peleburan dengan salah satu inti sperma, terjadilah embrio. Inti sperma yang kedua mengadakan peleburan dengan inti kandung lembaga sekunder yang nantinya akan merupakan putih lembaga sekunder. Peristiwa inilah yang dinamakan pembuahan ganda.


Gambar putik dan bagian-bagiannya.

Tumbuhan biji tertutup memiliki organ tubuh, seperti akar, batang, dan daun sejati. Akar tumbuhan ini selain berfungsi untuk menyerap unsur hara juga berfungsi untuk menegakkan batang. Sistem perakarannya ada yang serabut ada yang tunggang. Batangnya ada yang lunak ada yang keras berkayu. Pada tumbuhan tertentu batangnya ada yang berfungsi sebagai penyimpan cadangan makanan. Bentuk daun relatif tipis, lebar, dan struktur uratnya sangat bervariasi.

Klasifikasi tumbuhan biji tertutup (Angiospermae)
Tumbuhan biji tertutup yang sekarang masih ada meliputi ± 170.000 jenis, terbagi dalam lebih 10.000 marga, yang seluruhnya tercakup dalam lebih dari 300 suku. Tumbuhan biji tertutup dibedakan ke dalam dua kelas, yang masing-masing diberi nama menurut jumlah daun lembaga (cotyledon), yaitu:
1. Kelas tumbuhan dikotil atau tumbuhan biji belah (Dicotyledoneae atau Dicotylae), yang anggota-anggotanya mempunyai biji dengan lembaga yang memiliki 2 daun lembaga.
2. Kelas tumbuhan monokotil atau tumbuhan biji tunggal (Monocotyledoneae atau Monocotylae), yang anggota-anggotanya mempunyai biji dengan lembaga yang hanya memiliki satu daun lembaga.

Kedua kelas itu dapat dikenal berdasarkan ciri-ciri seperti termuat pada tabel berikut:


Lanjutan






Perkecualian atau penyimpangan dari sifat-sifat tersebut di atas dapat kita jumpai baik pada dikotil maupun pada monokotil, dalam arti bahwa di antara warga dikotil ada yang mempunyai sifat-sifat seperti terdapat pada tumbuhan monokotil, sebaliknya di antara warga monokotil ada pula yang mempunyai sifat-sifat dikotil, misalnya pada warga Piperaceae (contohnya Lada) yang tergolong dalam dikotil, tidak mempunyai akar tunggang dan tulang-tulang daunnya melengkung. Pada warga Palmae yang tergolong monokotil terdapat daun-daun yang bertulang menjari atau menyirip.

Tumbuhan biji belah (Dicotyledoneae)
Tumbuh-tumbuhan yang tergolong dalam kelas ini meliputi terna, semak-semak, perdu maupun pohon-pohon yang mempunyai ciri-ciri morfologi dan anatomi sebagai berikut:

Ciri-ciri morfologi:
1. Mempunyai lembaga dengan dua daun lembaga (berbiji belah) dan akar serta pucuk lembaga yang tidak mempunyai pelindung yang khusus.
2. Akar lembaga tumbuh terus menjadi akar pokok (akar tunggang) yang bercabang-cabang dan membentuk sistem akar tunggang.
3. Batang berbentuk kerucut panjang, biasanya bercabang-cabang dengan ruas-ruas dan buku-buku yang tidak jelas.
4. Duduk daun biasanya tersebar atau berkarang, kadang-kadang saja berseling.
5. Daun tunggal atau majemuk, seringkali disertai oleh daun-daun penumpu, jarang mempunyai pelepah, helaian daun bertulang menyirip atau menjari.
6. Pada cabang-cabang ke samping seringkali terdapat 2 daun pertama yang letaknya tegak lurus pada bidang median di kanan kiri cabang tersebut.
7. Bunga bersifat di-, tetra-, atau pentamer.


Ciri-ciri anatomi:
1. Baik akar maupun batang mempunyai kambium, hingga akar dan batangnya memperlihatkan pertumbuhan menebal sekunder.
2. Pada akar sifat radial berkas pengangkutnya hanya nyata pada akar yang belum mengadakan pertumbuhan menebal.
3. Pada batang berkas pengangkutan tersusun dalam lingkaran dengan xilem di sebelah dalam dan floem di sebelah luar, di antaranya terdapat kambium, jadi berkas pengangkutannya bersifat kolateral terbuka, kadang-kadang bikolateral.

Klasifikasi tumbuhan dikotil (Dicotyledoneae)
Tumbuhan dikotil terbagi ke dalam tiga anak kelas utama yaitu Apetalae (Monochlamydeae), Dialypetalae, dan Sympetalae. Masing-masing Anak kelas tersebut meliputi beberapa bangsa, seperti pada tebel berikut:

Anak kelas Apetalae (Monochlamydeae):


Lanjutan


Lanjutan


Keterangan: *berperanan penting bagi manusia

Anak kelas Dialypetalae:


Lanjutan


Lanjutan


Lanjutan


Lanjutan


Keterangan: *berperanan penting bagi manusia

Anak kelas Sympetalae:


Lanjutan


Keterangan: *berperanan penting bagi manusia

Tumbuhan biji tunggal (Monocotyledoneae)
Tumbuh-tumbuhan yang tergolong dalam kelas ini meliputi terna, semak-semak, perdu maupun pohon-pohon yang mempunyai ciri-ciri morfologi dan anatomi sebagai berikut:

Ciri-ciri morfologi:
1. Berupa terna, semak, atau pohon yang mempunyai sistem akar serabut, batang berkayu atau tidak, biasanya tidak atau tidak banyak bercabang-cabang, buku-buku dan ruas-ruas kebanyakan tampak jelas.
2. Daun kebanyakan tunggal, jarang majemuk, bertulang sejajar atau bertulang melengkung, duduknya berseling (mengikuti rumus 1/2) atau membentuk rozet.
3. Pada waktu perkecambahan sarung yang merupakan pelindung tadi akan tertembus oleh organ yang dilindunginya.

Ciri-ciri anatomi:
1. Akar mempunyai struktur yang terdiri atas jaringan-jaringan primer saja.
2. Akar tidak berkambium, sehingga akar tidak bertambah besar, tidak ada pembentukan jaringan baru, sehingga tetap mempunyai struktur yang primer.
3. Batang tidak mempunyai kambium, sehingga pada batang pun hanya terdapat jaringan-jaringan primer saja, dan setelah batang mencapai ukuran tertentu batang tidak dapat bertambah besar lagi.

Klasifikasi tumbuhan monokotil (Monocotyledoneae)
Tumbuhan monokotil terbagi ke dalam beberapa bangsa yaitu Bangsa Helobiae (Alismatales), Bangsa Triuridales, Bangsa Farinosae (Bromeliales), Bangsa Liliiflorae (Liliales), Bangsa Cyperales, Bangsa Poales (Glumiflorae), Bangsa Zingiberales (Scitaminae), Bangsa Gynandrae (Orchidales), Bangsa Arecales (Spadiciflorae), dan Bangsa Pandanales. Masing-masing bangsa tersebut mempunyai suku, marga, dan jenis seperti pada tabel berikut:


Lanjutan


Lanjutan


Keterangan: *berperanan penting bagi manusia

Daftar Pustaka

1. R.D. Vidyarthi and S.C. Tripathi. 2002. A Texbook of Botany. S. Chand & Company Ltd. Ram Nagar, New Delhi. India.

2. Gembong Tjitrosoepomo. 2005. Taksonomi Tumbuhan (Spermatophyta). Cetakan ke-8. Gadjah Mada University Press. Jogyakarta.

3. Supraptono Djajadirana. 2000. Kamus Dasar Agronomi. Cetakan pertama. PT. RajaGrafindo Persada. Jakarta.



Klasifikasi Tanaman

KLASIFIKASI TUMBUHAN
Oleh : Abdul Syahid, SP., MP

Definisi, Tujuan, Manfaat, dan Dasar Klasifikasi Tumbuhan
Klasifikasi dapat diartikan sebagai pembentukan kelas-kelas, kelompok, unit, atau takson melalui pencarian keseragaman dalam keanekaragaman. Tujuan klasifikasi adalah untuk menyederhanakan obyek studi. Klasifikasi dapat membantu kita dalam mengetahui jenis-jenis organisme, mengetahui hubungan antar organisme dan mengetahui kekerabatan antar makhluk hidup yang beraneka ragam.
Perbedaan dasar yang digunakan dalam mengadakan klasifikasi tumbuhan tentu saja memberikan hasil klasifikasi yang berbeda-beda pula, yang dari masa ke masa menyebabkan lahirnya Sistem Klasifikasi yang berlainan. Namun pada prinsipnya, kesamaan-kesamaan atau keseragaman itulah yang dijadikan dasar dalam mengadakan klasifikasi, misalnya klasifikasi berdasarkan lingkungan hidupnya, seperti tumbuhan air, tumbuhan darat, tumbuhan dataran tinggi, tumbuhan dataran rendah, atau berdasarkan kegunaannya seperti tumbuhan sandang, obat-obatan, hias, dan sebagainya.

Sejarah Perkembangan Sistem Klasifikasi Tumbuhan
Seara garis besar, perkembangan sistem klasifikasi dari masa ke masa adalah sebagai berikut :

1. Periode tertua (Prasejarah hingga Abad ke-4 SM)
Secara formal dalam periode ini belum dikenal adanya sistem klasifikasi yang diakui. Namun sejak dulu manusia sudah melakukan kegiatan-kegiatan yang termasuk ruang lingkup taksonomi, seperti mengenali dan memilah-milah tumbuhan yang mana baginya yang berguna dan yang mana yang tidak, termasuk pemberian nama, yang kemudian dikomunikasikan kepada pihak lain. Pada zaman prasejarah orang telah mengenal tumbuh-tumbuhan penghasil bahan pangan yang penting yang kita kenal sampai sekarang. Jenis-jenis tumbuhan itu diperkirakan telah dikenal sejak 7 sampai 10 ribu tahun yang lalu, telah dubudidayakan oleh bangsa Mesir yang mendiami lembah Sungai Nil bagian hilir di Afrika, bangsa inca di Asia Timur, bangsa Asiria di lembah Sungai Efrat dan Tigris di Timur Tengah, dan bangsa-bangsa Indian di Amerika Utara dan Amerika Selatan. Mereka telah mengenal berbagai jenis tumbuhan yang merupakan penghasil bahan pangan, bahan sandang, dan bahan obat, yang berarti sebenarnya mereka pun telah menerapkan suatu sistem klasifikasi, dalam hal ini suatu sistem klasifikasi yang didasarkan atas manfaat tumbuhan. Oleh karenanya pada periode ini dinamakan Periode Sistem Manfaat, yang dianggap sebagai sistem buatan yang tertua.

2. Periode Sistem Habitus (± abad ke-4 SM – abad ke-17 M)
Pada periode ini dikenalah ilmu taksonomi tumbuhan sebagai ilmu pengetahuan baru yang dipelopori oleh orang-orang Yunani seperti Theophrastes (370 – 285 SM) murid seorang filsuf yunani Aristoteles. Aristoteles sendiri murid seorang filsuf yunani Plato. Theophrastes mengklasifikasian tumbuhan berdasarkan habitus (perawakan).
Sistem klasifikasi yang diusulkan bangsa yunani yang dipelopori Theophrastes ini diikuti oleh kaum herbalis, dan ahli-ahli botani, dan nama itu terus dipakai sampai selama lebih 10 abad.
Pengklasifikasian tumbuhan berdasarkan habitus (perawakan), membagi tumbuhan ke dalam 5 golongan yaitu pohon, perdu, semak, tumbuhan memanjat, dan terna. Theophrastes-lah yang pertama mengelompokan tumbuhan menurut umur yaitu tumbuhan berumur pendek (anual), tumbuhan berumur 2 tahun (bienial), dan tumbuhan berumur panjang (perenial).
Beberapa tokoh yang ikut memainkan peran dalam periode ini antara lain yaitu Plinius (23 – 79 M), O.Brunfels (1464 – 1534 M), J. Bauhin (1560 – 1624 M), R. Morison (1620 – 1683).

3. Periode Sistem Numerik (± awal abad ke-18 M)
Tidak seperti pada periode sebelumnya dimana tumbuhan di klasifikasikan berdasarkan bentuk dan strukturnya, pada periode ini pengklasifikasian tumbuhan berdasarkan hubungan kekerabatan antara tumbuhan.
Pada periode ini tokoh yang paling menonjol adalah Karl Linne (Carolus Linnaeus) (1707 – 1228 M). Dia menciptakan klasifikasi tumbuhan berdasarkan sistem seksual yaitu berdasarkan kesamaan jumlah alat-alat kelamin, antara lain jumlah benang sari seperti Monandria (berbenang sari tunggal), Diandria (berbenang sari dua) Triandria (berbenang sari tiga) dan seterusnya. Itulah sebabnya sistem klasifikasi tumbuhan ciptaan Linnaeus ini dikenal pula sebagai Sistem Numerik. Linnaeus juga dianggap sebagai pencipta sistem tata nama ganda dalam bukunya Species Plantarum walaupun sebenarnya sistem tata nama ganda tersebut sudah rintis oleh Casper Bauhin dalam bukunya Pinax Theatri Botanici. Tetapi karena mungkin Linnaeus-lah yang pertama seara konsisten menggunakan nama ganda itu untuk jenis tumbuhan dalam bukunya Species Plantarum tadi, nama Bauhin menjadi tersisihkan.
Beberapa tokoh-tokoh yang ikut berperan pada periode ini antara lain Peter Kalm (1716 – 1779 M), J.A. Murray (1740 – 1791 M), J. Schultes (1773 – 1831 M).

4. Periode sistem alam (± akhir abad ke-18 hingga pertengahan abad ke-19)
Menjelang berakhirnya abad ke-18 mulailah terjadi perubahan-perubahan yang revolusioner dalam pengklasifikasian tumbuhan. Sistem klasifikasi yang baru ini disebut “sistem alam” dalam arti bahwa golongan-golongan yang terbentuk merupakan unit-unit yang wajar (natural) bila terdiri atas anggota-anggota itu, dan dengan demikian dapat tercermin pengertian manusia mengenai yang disebut apa yang dikehendaki oleh alam. Secara harfiah istilah “sistem alam” untuk aliran baru dalam klasifikasi ini sebenarnya tidak begitu tepat, mengingat sistem yang manapun dengan menerapkan dasar apapun, tetap merupakan ciptaan orang, sehingga pada hakekatnya semua sistem klasifikasi adalah sistem buatan.
Beberapa tokoh yang berperan pada periode ini antara lain J.B. de Lamarck (1744 – 1829 M), orang yang menulis buku Flora Francoise yang ditulis berupa kunci untuk mengidentifikasi tumbuh-tumbuhan di Perancis. Lamarck juga dianggap sebagai salah satu perintis lahirnya teori evolusi. Teorinya yang dikenal dengan nama “Lamarckisme”, yang menyatakan bahwa perubahan lingkungan dapat mengubah struktur organisme. Tokoh lain seperti Robert Brown (1773 – 1858 M), G. Bentham (1800 – 1884 M), J.D. Hooker (1917 – 1911 M).

5. Periode sistem filogenetik (pertengahan abad ke-19 hingga sekarang
Sistem klasifikasi dalam periode ini berupaya untuk mengadakan penggolongan tumbuhan yang sekaligus juga menerminkan urutan-urutan golongan itu dalam sejarah perkembangan filogenetiknya dan dengan demikian juga menunjukkan jauh dekatnya hubungan kekarabatan antara golongan yang satu dengan yang lain. Jadi dalam klasifikasi ini dasar yang digunakan adalah “filogeni” dan dari sini lahirlah nama “sistem filogenetik”. Beberapa ahli taksonomi tumbuhan yang berperan pada periode ini antara lain, Alexander Braun (1805 – 1877 M), A.W. Eihler (1839 – 1887 M), Adolph Engler (1844 – 1930 M), C.E. Bessey (1845 – 1915 M).

6. Periode sistem klasifikasi kontemporer (abad ke-20)
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat dalam abad ke-20 telah berpengaruh terhadap perkembangan ilmu taksonomi tumbuhan. Kecenderungan untuk mengkuantitatifkan data penelitian dan penerapan matematika dalam pengolahan data yang diperoleh telah menyusup pula ke dalam ilmu-ilmu social yang semula tak pernah atau belum memanfaatkan matematika serta belum mempertimbangkan pula kemungkinan-kemungkinan yang dapat dicapai dengan penerapan pendekatan kuantitatif matematik. Sekarang ada kecenderungan untuk menganggap bahwa penerapan metode kuantitatif sajalah yang dapat menjamin hasil penelitian yang cermat dan dapat diperaya.
Perkembangan teknologi, khususnya di bidang elektronika, yang dalam abad nuklear maju dengan pesat ini, telah pula menjamah bidang taksonomi tumbuhan, yang sejak beberapa dasawarsa belakangan ini juga sudah menerapkan metode penelitian kuantitatif yang pengolahan datanya menggunakan komputer. Dari sinilah melahirkan bidang baru dalam taksonomi tumbuhan yang dikenal sebagai taksonomi numerik, taksometri, atau taksonometri. Pengolahan data secara elektronik juga sudah diterapkan untuk berbagai prosedur dalam penelitian taksonomi.
Taksonomi numerik (dalam arti bukan yang diteorikan oleh Linnaeus) didefinisikan sebagai metode evaluasi kuantitatif mengenai kesamaan atau kemiripan sifat antar golongan organisme, dan penataan golongan-golongan itu melalui suatu analisis yang dikenal sebagai ”analisis kelompok” ke dalam kategori takson yang lebih tinggi atas dasar kesamaan-kesamaan tadi. Peranan komputer adalah untuk mengerjakan perbandingan kuantitatif antara organisme mengenai sejumlah besar ciri-ciri secara simultan. Jadi komputer itu mengambil alih tugas kita dalam melakukan hitungan-hitungan dengan sangat cepat dan tanpa prasangka.
Taksonomi numerik didasarkan atas bukti-bukti fenetik, artinya didasarkan atas kemiripan yang diperlihatkan obyek studi yang diamati dan dicatat, dan bukan atas dasar kemungkinan-kemungkinan perkembangan filogenetiknya. Kegiatan-kegiatan dalam taksonomi numerik bersifat empirik operasional, dan data serta kesimpulannya selalu dapat diuji kembali melalui observasi dan eksperimen.

Takson dan Kategori
Dalam Kode Internasional Tatanama Tumbuhan (KITT) Bagian II Peraturan dan Saran-Saran Bab I Tingkat Takson dan Istilah untuk Menyebutnya Pasal 1, secara eksplisit, bahwa yang dimaksud Takson adalah setiap golongan (unit) taksonomi tingkat yang mana pun. Artinya takson-takson itu dibedakan dalam tingkat yang berbeda-beda, yang berarti pula bahwa takson-takson itu dapat ditata menurut urut-urutan tingkatnya. Pasal berikutnya dalam KITT menyebutkan bahwa ada 7 tingkat takson yang utama, yang diurutkan dari yang terbesar sampai yang terkecil, seperti pada tabel berikut (Perbandingan dengan takson hewan) :


Istilah jenis, marga, suku, dan seterusnya merupakan istilah untuk menunjukkan takson menurut tingkatnya, yang dalam taksonomi disebut pula dengan istilah kategori. Namun istilah kategori lazim digunakan dalam taksonomi hewan, dan jarang kita jumpai dalam taksonomi tumbuhan.
Takson (unit) dasar dalam taksonomi tumbuhan. Pada masa lampau yang dijadikan unit dasar dalam klasifikasi tidak sama dengan unit dasar yang dipakai sekarang. Dari karya pakar masa lampau dapat disimpulkan, bahwa unit dasar yang mereka pakai adalah marga (genus), yang terbukti dari judul karya mereka yang semua hampir sama, yaitu Genera Plantarum (marga-marga tumbuhan), seperti karya-karya Linnaeus, Endlicher, Bentham & Hooker, semuanya berjudul Genera Plantarum. Pada waktu sekarang keadaannya telah berubah, KITT Bagian II, Bab I Pasal 2 menyebutkan seara eksplisit, bahwa takson jenis (species) adalah yang merupakan unit dasar. Sebagai contoh klasifikasi pada Oryza sativa (padi):
Regnum (dunia) : Tumbuhan
Divisio (divisi) : Spermatophyta
Sub Divisio : Angiospermae
Class (kelas) : Monocotyledoneae
Ordo (bangsa) : Poales (Glumiflorae)
Familia (suku) : Gramineae
Genus (marga) : Oryza
Species (jenis) : Oryza sativa

Identifikasi dan Sistem Identifikasi
Indentifikasi atau “pengenalan” merupakan kegiatan untuk menetapkan identitas (“jati diri”) suatu tumbuhan, yang dalam hal ini tidak lain daripada “menentukan namanya yang benar dan tempatnya yang tepat dalam sistem klasifikasi”. Istilah identifikasi sering juga digunakan istilah “determinasi”. Setiap orang yang akan mengidentifikasi suatu tumbuhan selalu dihadapkan pada dua kemungkinan, yaitu :
1. tumbuhan yang akan ia identifikasi itu belum dikenal oleh dunia ilmu pengetahuan, jadi belum ada nama ilmiah-nya, juga belum ditentukan tumbuhan itu berturut-turut dimasukkan dalam kategori yang mana.
2. tumbuhan yang akan ia identifikasi itu sudah dikenal oleh dunia ilmu pengetahuan, sudah ditentukan nama dan tempatnya yang tepat dalam sistem klasifikasi.

Identifikasi tumbuhan yang belum dikenal oleh dunia ilmu pengetahuan harus tidak boleh menyimpang dari ketentuan-ketentuan yang berlaku seperti dimuat dalam KITT. Nama takson baru itu selanjutnya harus dipublikasikan melalui cara-cara yang diatur pula oleh KITT. Prosedur identifikasi tumbuhan yang untuk pertama kali akan diperkenalkan oleh dan ke dunia ilmiah itu memerlukan bekal yang lazimnya hanya dimiliki oleh mereka yang berpendidikan ilmu hayat, khususnya taksonomi tumbuhan. Oleh karena itu pekerjaan identifikasi yang pertama kali itu hanya dilakukan oleh ahli-ahli yang bekerja dalam lembaga penelitian taksonomi tumbuhan (herbarium), jarang sekali oleh pihak-pihak lain di luar mereka.
Untuk identifikasi tumbuhan yang tidak kita kenal tetapi telah dikenal oleh dunia ilmu pengetahuan, dapat dilakukan dengan cara :
1. Menanyakan identitas tumbuhan tersebut kepada seseorang yang kita anggap ahli dan kita perkirakan mampu memberikan jawaban atas pertanyaan kita.
2. Mencocokkan dengan spesimen herbarium yang telah diidentifikasikan.
3. Mencocokkan dengan candra dan gambar-gambar yang ada dalam buku-buku flora atau monografi.
4. Menggunakan kunci identifikasi dalam identifikasi tumbuhan.
5. Menggunakan Lembar Identufikasi Jenis (“Species Identification Sheet”).

Tatanama Tumbuhan
Nama biasa dan nama ilmiah
Pada mulanya nama yang diberikan kapada tumbuhan itu adalah dalam bahasa induk orang yang memberi nama. Dengan demikian satu jenis tumbuhan dapat mempunyai nama yang berbeda-beda sesuai dengan bahasa orang yang memberikannya. Misalnya pisang dalam bahasa Indonesia oleh orang Inggris atau Belanda dinamakan banana, orang Jawa Tengah menyebutnya gedang, sedang orang Jawa Barat oleh orang-orang Sunda pisang dinamakan cauk. Nama demikian itu, yang berbeda-beda menurut bahasa yang memberikan nama tadi, dalam taksonomi tumbuhan disebut nama biasa, nama daerah, atau nama lokal atau “common name”. dengan semakin berkembangnya ilmu taksonomi tumbuhan kemudian dikenal yang disebut “nama ilmiah” (“scientific name”).
Lahirnya nama ilmiah disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain :
1. Beranekaragamnya nama biasa, berarti tidak adanya kemungkinan nama biasa itu diberlakukan secara umum untuk dunia internasional, mengingat adanya perbedaan dalam setiap bahasa yang digunakan, sehingga tidak mungkin dimengerti oleh semua bangsa.
2. Beranekaragamnya nama dalam arti ada yang pendek, ada yang panjang, bahkan ada yang panjang sekali, misalnya nama Sambucus, Sambucus nigra (sambucus hitam), Sambucus fructu in umbello nigro (Sambucus dengan buah berwarna hitam yang tersusun dalam rangkaian seperti payung), atau Sambucus caule ramoso floribus umbellatus (Sambucus dengan batang berkayuyang bercabang-cabang dan bunga yang tersusun sebagai payung). Nama-nama itu diberikan kepada tumbuhan tanpa adanya indikasi nama-nama tadi dimaksud sebagai nama jenis, nama marga, atau nama kategori takson yang lain lagi.
3. Banyaknya sinonima (dua nama atau lebih) untuk satu macam tumbuhan, seperti misalnya nama-nama dalam bahasa Jawa: tela pohong, tela kaspa, tela jendral, menyok, untuk katela pohon,dan juga banyak homonima, seperti misalnya dalam bahasa Indonesia lidah buaya yang digunakan untuk marga Aloe dan Opuntia.
4. Sukarnya diterima oleh dunia internasional, bila salah satu bahasa bangsa-bangsa yang sekarang masih dipakai sehari-hari dipilih sebagai bahasa untuk nama-nama ilmiah.

Bila kedua macam nama yaitu nama biasa dan nama ilmiah tersebut kita bandingkan, akan kita temukan perbedaan-perbedaan seperti pada tabel berikut :


Suatu takson dengan sirkum-skripsi, posisi, dan tingkat tertentu hanya mempunyai satu nama yang benar, kecuali dalam hal-hal yang dinyatakan secara khusus.

Kaitan Taksonomi dengan Cabang-Cabang Ilmu Lain
Berdasarkan bentuk kaitan antara cabang-cabang ilmu lain dengan taksonomi tumbuhan, dapat dibedakan ke dalam tiga kelompok, yaitu:
1. Ilmu atau cabang-cabang ilmu yang merupakan syarat mutlak sebagai bekal untuk dapat mendalami taksonomi tumbuhan. Ilmu atau cabang-cabang ilmu demikian itu disebut prasyarat (prerequisite) yang harus dikuasai dulu oleh seseorang sebelum memulai dengan mempelajari ilmu yang lain. Cabang-cabang ilmu yang dapat dianggap merupakan prasyarat untuk mempelajari taksonomi tumbuhan yaitu Tatanama Tumbuhan, Morfologi-Terminalogi, dan Bahasa Latin.

2. Ilmu atau cabang-cabang ilmu yang oleh seseorang diperlukan agar ia dapat lebih memahami berbagai aspek ilmu yang sedang dipelajari itu dengan lebih baik. Ilmu atau cabang-cabang ilmu demikian itu lazim disebut sebagai penunjang, yang sama halnya dengan ilmu yang merupakan prasyarat seyogyanya dikuasai lebih dulu sebelum melangkah untuk mempelajari suatu bidang ilmu tertentu. Ilmu atau cabang-cabang ilmu yang diperlukan sebagai penunjang untuk mendalami taksonomi tumbuhan yaitu Filogeni (mempelajari sejarah evolusioner suatu takson yang berupaya untuk menerangkan asal dan perkembangan takson) dan Evolusi, Ekologi (Ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungnya) dengan dan Fitogeografi (ilmu yang mempelajari hubungan keruangan antara takson tumbuhan di muka bumi atau dikatakan juga ilmu yang mempelajari tentang distribusi tumbuhan di muka bumi), dan Genetika.

3. Ilmu atau cabang-cabang ilmu yang bila dimiliki oleh seseorang dalam mempelajari suatu bidang ilmu tertentu akan dapat menambah atau lebih mendalam wawasannya, yaitu Geologi, Ilmu Tanah, dan Iklim, Matematika, Statistika, dan Komputer.

Daftar Pustaka

1. R.D. Vidyarthi and S.C. Tripathi. 2002. A Texbook of Botany. S. Chand & Company Ltd. Ram Nagar, New Delhi. India.

2. Gembong Tjitrosoepomo. 2005. Taksonomi Umum (Dasar-dasar taksonomi tumbuhan). Cetakan ketiga. Gadjah Mada University Press. Jogyakarta.

3. Supraptono Djajadirana. 2000. Kamus Dasar Agronomi. Cetakan pertama. PT. RajaGrafindo Persada. Jakarta.



Rabu, 06 Mei 2009

Percobaan Faktorial dengan Rancangan Dasar RAK

Pada dasarnya percobaan faktorial dengan dasar rancangan RAK tidak lain adalah percobaan menggunakan RAK sebagai rancangan lingkungannya, sedangkan faktor yang dicobakan lebih dari satu. Yang membedakan rancangan faktorial RAK dengan rancangan faktorial RAL adalah pada analisis ragamnya dimana dihitung JK kelompoknya dan perbedaan lain pada cara pengacakan satuan percobaan dilapangan.

Pengacakan dan Denah Rancangan
Nah, sekarang bagamana cara melakukan pengacakan percobaan faktorial pada RAK ini?
Misalkan suatu percobaan faktorial bertujuan ingin mempelajari pengaruh pemupukan N dan varitas terhadap hasil produksi (diukur dalam kuintal.ha-1). Faktor pemupukan terdiri dari dua taraf, yaitu: 0 kg N.ha-1 (N0) dan 60 kg N.ha-1 (N1). Faktor varietas terdiri dari varietas X (v1) dan varietas Y (v2). Sehingga terdapat empat kombinasi perlakuan. Jadi kombinasi perlakuan yang dicoba adalah:

V1N0 : kombinasi perlakuan varietas X yang tidak dipupuk
V2N0 : kombinasi perlakuan varietas Y yang tidak dipupuk
V1N1 : kombinasi perlakuan varietas X yang dipupuk dengan dosis 60 kg N.ha-1
V2N1 : kombinasi perlakuan varietas Y yang dipupuk dengan dosis 60 kg N.ha-1

Percobaan dilakukan dengan rancangan lingkungan RAK yang masing-masing diulang sebanyak 5 kali. Sehingga terdapat 20 satuan percobaan.

Langkah pertama, bagi areal percobaan menjadi 5 kelompok yang sama dan masing-masing kelompok dibagi menjadi 6 petak dan dan letakan perlakuan sesuai dengan perlakuan yang diberikan seperti pada gambar berikut :


Kemudian lakukan pengacakan terhadap masing-masing kelompok dengan menggunakan tabel bilangan acak. Tabel bilangan acak ini mungkin berbeda-beda pada beberapa referensi buku. Tapi yang penting adalah anda menggunakan tabel bilangan acak yang jelas referensinya. Di sini saya menggunakan tabel bilangan acak dari buku Gomez & Gomez.
Oke, kita mulai pengacakan pada kelompok I dengan prosedur sebagai berikut :
a) Pilihlah 4 bilangan acak tiga digit, misalnya pada perpotongan baris ke-16 dan kolom ke-12 dari tabel bilangan acak dan bacalah secara vertikal ke arah bawah atau ke atas atau secara horizontal ke arah kiri atau ke arah kanan. Dalam hal ini saya tentukan saja secara vertikal ke arah bawah. Berikut saya lampirkan sebagian dari tabel tersebut berikut ini :


Anda perhatikan angka-angka yang saya blok dengan kotak merah berjumlah 4 angka. Tempatkan ke-4 bilangan acak tersebut pada masing-masing perlakuan seperti pada tabel berikut :


Kemudian anda berikan peringkat sesuai dari angka bilangan acak yang terkecil hingga terbesar seperti pada tabel berikut :


Dan anda tetapkan keempat perlakuan pada kelima petakan dengan menggunakan urutan bilangan acak yang terjadi sebagai nomor perlakuan dan peringkatnya sebagai nomor petak dimana perlakuan tertentu ditetapkan, sehingga;
- Perlakuan V1N1 ditetapkan pada petak nomor 4
- Perlakuan V1N2 ditetapkan pada petak nomor 3
- Perlakuan V2N1 ditetapkan pada petak nomor 1
- Perlakuan V2N2 ditetapkan pada petak nomor 2

Dengan cara yang sama anda lakukan pengacakan terhadap kelompok II, III, IV, dan V sehingga penataan akhir terlihat sebagai berikut :


Model Linear Aditif Percobaan Faktorial dua faktor dengan RAK


Hipotesis
Hipotesis yang diuji untuk model tetap percobaan faktorial adalah :


Analisis Ragam faktorial dalam RAK:
Untuk lebih memudahkan dalam memahaminya, saya gunakan contoh data percobaan faktorial dalam RAK tentang pengaruh varietas jagung (Faktor A) dan pemupukan Nitrogen (Faktor B) terhadap produksi tanaman jagung yang menggunakan RAL dengan ulangan sebanyak lima kali. Faktor varitas terdiri dari 2 taraf, yaitu varitas V1 dan varietas V2. Sedangkan pemupukan Nitrogen terdiri dari dua taraf, yaitu dosis pemupukan 0 kg N/ha (dinotasikan dengan N1) dan dosis pemupukan 60 kg N/ha (dinotasikan dengan N2). Data hasil percobaan seperti pada tabel berikut :


Untuk memudahkan perhitungan, buat tabel total perlakuan seperti berikut ini :


Pertama anda hitung nilai Faktor koreksi (FK) dan Jumlah Kuadrat (JK) untuk masing-masing sumber keragaman sebagai berikut :






Selanjutnya anda hitung derajad bebas (db) dari masing-masing sumber keragaman dimana a = level varietas = 2, b = level Nitrogen = 2, r = ulangan = 5, seperti berikut ini :
db Kelompok = r – 1 = 5 – 1 = 4
db perlakuan = ab – 1 = (2 x 2) – 1 = 3
db Varietas = a – 1 = 2 – 1 = 1
db Nitrogen = b – 1 = 2 – 1 = 1
db Interaksi V x N = (a – 1)(b – 1) = 1 x 1 = 1
db galat = (r-1)(ab – 1)= (5 - 1)((2 x 2) - 1) = 12
db total = abr – 1 = (2)(2)(5) – 1 = 19

Selanjutnya anda hitung Kuadrat Tengah (KT) untuk masing-masing sumber keragaman berikut ini :




Lalu anda hitung F hitungnya :
a) Varietas :


b) Nitrogen :


c) Interaksi Varietas x Nitrogen :


Kemudian anda masukan semua hasil perhitungan di atas ke dalam tabel analisis ragam berikut ini :


Dari hasil Pengujian terlihat bahwa perlakuan interaksi antara Varietas dan Nitrogen tidak berpengaruh nyata terhadap produksi jagung. Sedangkan kedua faktor tunggal yaitu Varietas dan Nitrogen berpengaruh sangat nyata terhadap produksi jagung.

Anda hitung nilai KK-nya berikut ini :


Pengujian beda pengaruh perlakuan
Sebelum anda melakukan pengujian beda pengaruh perlakuan, anda perhatikan hasil analisis ragam di atas. Dari hasil analisis ragam terlihat bahwa perlakuan interaksi tidak berpengaruh nyata sedangkan perlakuan tunggal Varietas dan perlakuan tunggal Nitrogen berpengaruh sangat nyata, maka konsekuensi logis yang harus anda lakukan adalah menguji perbedaan pengaruh pada masing-masing perlakuan tunggal tersebut. Dan karena pengaruh perlakuan interaksinya tidak berpengaruh nyata, maka anda tidak perlu melakukan pengujian lebih lanjut terhadap perlakuan interaksi tersebut.

Dalam melakukan pengujian terhadap beda pengaruh perlakuan pada percobaan fatorial 2 faktor, anda harus pahami tentang simpangan baku yang digunakan. Apabila anda menggunakan uji BNT atau uji Dunnet, maka gunakan simpangan baku rata-rata deviasi yang dirumuskan sebagai berikut :
a) Untuk Faktor A :


b) Untuk Faktor B :


c) Untuk Interaksi A x B :


Apabila anda menggunakan uji BNJ, uji DMRT atau uji Jarak Nyata Student-Newman-Keuls, maka gunakan simpangan baku rata-rata Umum yang dirumuskan sebagai berikut :
a) Untuk Faktor A :


b) Untuk Faktor B :


c) Untuk Interaksi A x B :


Oke, kita mulai saja dengan menguji beda pengaruh perlakuan varietas. Dalam hal ini kita bisa menggunakan uji BNT, BNJ, atau DMRT, untuk ini saya gunakan saja uji BNT pada 5%. Dan untuk memudahkan pengujian saya buat tabel dua arah dari rata-rata perlakuan berikut ini :


Baik, yang pertama kita menguji beda pengaruh perlakuan pada perlakuan Varietas. Prosedur pengujiannya sebagai berikut :

Langkah pertama anda hitung nilai baku BNT5% dimana KT galat = 23,75; db galat = 16; level Perlakuan N (b) = 2, r = 5, Nilai t (16; 0,05) = 2,120 dan α = 0,05. Untuk ini gunakan simpangan baku rata-rata deviasi untuk faktor A berikut ini :


Pertama anda susun rata-rata perlakuan dari terkecil hingga terbesar dan buat tabel seperti berikut ini:


Lalu anda lakukan prosedur pengujian BNT dengan memberikan tanda huruf pada nilai rata-ratanya. Untuk ini saya tidak menjelaskan bagaimana prosedur pengujian Uji BNT dan cara pemberian hurufnya. Dan anda dapat mempelajari uji BNT terlebih dahulu di sini.

Dan hasil pengujian adalah seperti pada tabel berikut ini :


Dari hasil pengujian BNT 5% ternyata pada perlakuan V1 dan V2 berbeda nyata (diikuti oleh huruf yang berbeda), hal ini berarti perlakuan V1 dan V2 memberikan respons yang berbeda terhadap produksi jagung. Dengan demikian apabila anda ingin mendapatkan respons hasil yang tinggi, maka sebaiknya anda menggunakan Varietas V2.

Berikutnya kita menguji beda pengaruh perlakuan pada perlakuan pemupukan N. Prosedur pengujiannya sebagai berikut :

Langkah pertama anda hitung nilai baku BNT5% dimana KT galat = 23,75; db galat = 16; level Perlakuan Varietas (a) = 2, r = 5, Nilai t (16; 0,05) = 2,120 dan α = 0,05. Untuk ini gunakan simpangan baku rata-rata deviasi untuk faktor B berikut ini :


Pertama anda susun rata-rata perlakuan dari terkecil hingga terbesar dan buat tabel seperti berikut ini:


Dengan cara yang sama pada pengujian varietas anda lakukan prosedur pengujian BNT dengan memberikan tanda huruf pada nilai rata-ratanya berikut ini :

Dan hasil pengujian adalah seperti pada tabel berikut ini :


Dari hasil pengujian BNT 5% ternyata pada perlakuan N1 dan N2 berbeda nyata (diikuti oleh huruf yang berbeda), hal ini berarti perlakuan N1 dan N2 memberikan respons yang berbeda terhadap produksi jagung. Dengan demikian apabila anda ingin mendapatkan respons hasil yang tinggi, maka sebaiknya anda menggunakan N2 karena hasilnya lebih tinggi dibandingkan N1.

Selesai. Semoga bermanfaat.



Versi pdf silahkan download disini