Thursday, March 24, 2016

Cara Menentukan Perlakuan Terbaik pada Perlakuan Kuantitatif dan Perlakuan Kualitatif

Seringkali kita dihadapkan pada keadaan dimana kita kadang kesulitan dalam menentukan mana perlakuan yang terbaik dari semua perlakuan yang kita coba atau yang kita teliti dalam suatu penelitian. Dalam hal ini tentu dalam menentukan mana perlakuan yang terbaik antara perakuan yang bersifat kuantitatif akan berbeda dengan perlakuan yang bersifat kualitatif. Sebelum kita bahas lebih lanjut ada baiknya saya jelaskan apa itu perlakuan kuantitatif dan apa itu perlakuan kualitatif. Perlakuan kuantitatif adalah perlakuan dimana ada skala ukur atau skala hitung dalam menentukan taraf-taraf dalam perlakuannya. Perlakuan kuantitatif itu contohnya: “dosis pupuk”, “dosis pestisida”, “takaran pupuk kandang”, “takaran kompos”, dan lain sebagainya. Misalnya perlakuan Takaran pupuk Kandang kotoran sapi dimana tarafnya adalah 0 t.ha-1, 5 t.ha-1, 10 t.ha-1, 15 t.ha-1, dan 20 t.ha-1. Antar takaran pupuk kandang kotoran sapi ada jarak tertentu dengan nilai tertentu yaitu 0, 5, 10, dst, dan oleh karena hal inilah maka perlakuan jenis seperti ini dinamakan perlakuan kuantitatif. Sedangkan perlakuan kualitatif adalah perlakuan dimana tidak ada skala ukur atau skala hitung pada taraf-taraf perlakuannya. Perlakuan kualitatif itu contohnya: jenis pupuk (pupuk kandang kotoran sapi, pupuk kandang kotoran ayam, pupuk kandang kotoran burung, dll), jenis herbisida (herbisida buatan, herbisida nabati), jenis kompos (kompos kotoran sapi, kompos kotoran kambing, kompos kotoran ayam, kompos eceng gondok, dll). Pada perlakuan kualitatif ini tidak ada jarak antara perlakuan satu dengan perlakuan yang lainnya karena yang membedakan perlakuan kualitatif adalah pada kualitas perlakuannya buakn pada jumlah perlakuannya.

Menentukan perlakuan yang terbaik pada perlakuan kuantitatif harus mempertimbangkan beberapa hal terutama dari aspek ekonomis mengapa perlakuan tersebut dianggap sebagai perlakuan yang terbaik. Sebagai ilustrasi saya berikan contoh hasil pengujian beda nilai rata-rata perlakuan pengaruh takaran pupuk kandang kotoran sapi terhadap rata-rata bobot tongkol jagung per hektar berikut ini:




Dari hasil pengujiaan BNJ di atas terlihat bahwa tidak ada perbedaan pengaruh perlakuan antara perlakuan takaran pupuk kandang kotoran sapi 10 t.ha-1, 15 t.ha-1, dan 20 t.ha-1 karena ketiga nilai rata-rata dikuti dengan huruf yang sama. Perlakuan 5 t.ha-1 tidak berbeda dengan perlakuan tanpa pupuk kandang. Hal ini menunjukkan implikasi bahwa ketika petani hanya mempunyai pupuk kandang kotoran sapi 5 ton dan ia ingin memberikan pupuk kandangnya tersebut ke tanaman jagung maka disarankan lebih baik jangan diberikan karena hasil bobot tongkol jagungnya nanti akan sama hasilnya ketika tanaman jagung si petani tersebut tidak diberikan pupuk kandang kotoran sapi. Kemudian ketika kita ingin merekomendasikan berapa takaran yang terbaik dalam hal ini, maka apabila kita menentukan bahwa yang terbaik adalah perlakuan takaran 20 t.ha-1 karena memberikan hasil bobot tongkol yang tertinggi adalah suatu kekeliruan yang besar. Mengapa demikian, perlakuan 20 t.ha-1 boleh jadi memberikan hasil bobot tongkol yang tertinggi tapi hasil bobot tongkolnya tidak berbeda nyata dengan perlakuan takaran 10 t.ha-1 juga dengan perlakuan takaran 15 t.ha-1. Maka dalam hal ini perlakuan terbaik adalah perlakuan takaran 10 t.ha-1. Implikasinya adalah petani harus direkomendasikan menggunakan takaran 10 t.ha-1 karena hasil bobot tongkolnya tidak berbeda nyata dengan takaran 15 t.ha-1 dan 20 t.ha-1.

Berbeda dengan perlakuan kuantitatif, menentukan perlakuan yang terbaik pada perlakuan kualitatif tidak saja mempertimbangkan beberapa hal seperti aspek ekonomis tetapi juga ketersedian bahan mengapa perlakuan tersebut dianggap sebagai perlakuan yang terbaik. Sebagai ilustrasi saya berikan contoh hasil pengujian beda nilai rata-rata perlakuan pengaruh jenis pupuk kandang terhadap rata-rata bobot tongkol jagung per hektar berikut ini (dengan angka yang sama pada ilustrasi perlakuan kuantitatif) :



Dari hasil pengujiaan BNJ di atas terlihat bahwa tidak ada perbedaan pengaruh perlakuan antara perlakuan jenis pupuk kandang kotoran kambing, kotoran itik, kotoran ayam karena ketiga nilai rata-rata dikuti dengan huruf yang sama. Perlakuan kotoran sapi tidak berbeda dengan kotoran kuda, tetapi karena bobot tongkolnya rendah maka abaikan saja kedua perlakuan tersebut. Namun demikian tidak menutup kamungkinan jika jenis pupuk kandang yang tersedia di petani hanya kotoran sapi atau kotoran kuda, mereka bisa memilih salah satunya untuk digunakan sebagai pupuk kandang. Kemudian ketika kita ingin merekomendasikan jenis pupuk kandang apa yang terbaik dalam hal ini, maka apabila kita menentukan bahwa yang terbaik adalah hanya perlakuan pupuk kandang kotoran ayam karena memberikan hasil bobot tongkol yang tertinggi adalah suatu kekeliruan. Mengapa demikian, karena sesungguhnya perlakuan pupuk kandang kotoran kambing dan pupuk kandang kotoran itik juga sama baiknya dengan perlakuan pupuk kandang kotoran ayam. Implikasinya adalah ketika petani dihadapkan atas beberapa pilihan pupuk kandang yang tersedia maka ia bisa memilih salah satu pupuk kandang apakah pupuk kandang kotoran ayam atau pupuk kandang kotoran kambing atau pupuk kandang kotoran itik tergantung ketersediaan pupuk yang dimilikinya. Artinya apapun dari ketiga jenis pupuk kandang tersebut yang akan dipilih petani akan memberikan hasil yang sama baiknya terhadap bobot tongkol jagung.

Selesai, semoga bermanfaat...

No comments:

Post a Comment

Terima kasih atas minat anda untuk membaca posting saya, silahkan beri komentar pada posting ini.